Rumah Cabang Putri Karmel

I.          KEUSKUPAN RUTENG

Ruteng merupakan rumah cabang pertama yang dibuka oleh Putri Karmel. Pada tanggal 19 Maret 1992, Putri Karmel memulai komunitas di Ruteng di daerah Cewonikit. Kasih dan Penyelenggaraan Ilahi menyertai proses pembukaan rumah cabang di Ruteng melalui Bapak Uskup Mgr. Eduardus yang terbuka untuk menerima Putri Karmel di Keuskupannya. Sedangkan rumah retret dibangun di kelurahan GolodukalWae Lengkas, untuk menampung umat yang ingin mengikuti program retret yang diadakan oleh para suster ataupun kelompok-kelompok yang mau meminjam tempat untuk mengadakan retret/rekoleksi. Rumah retret ini mulai dikaryakan tahun 2003 dan diberkati oleh Bapak Uskup Mgr. Eduardus pada tanggal 11 Februari 2004 dengan mengambil nama: RUMAH RETRET MARIA BUNDA KARMEL.

 

II.        RUMAH STUDI ST. TERESA AVILA, MALANG

Rumah studi St. Teresa Avila terletak di Keuskupan Malang, tepatnya di Jl. Jayagiri No. 15, Malang. Letaknya berdekatan dengan STFT Widya Sasana dan beberapa biara dari Kongregasi lain, yaitu Susteran Misericordia, Biara Titus Brandsma—milik Ordo Karmel, dan Seminari Tinggi para Frater SVD.

Bila melihat proses kepemilikan rumah ini, nampak dengan jelas bahwa Penyelenggaraan Ilahi memegang peranan sangat besar. Proses ini dimulai dalam pembicaraan dengan para suster pelayan Putri Karmel tahun 1993. Tercetuslah suatu pikiran bahwa sudah saatnya Putri Karmel memiliki sebuah rumah di Malang dengan tujuan utama sebagai tempat tinggal para suster yang studi di STFT Widya Sasana. Tetapi, selain sebagai rumah studi juga akan difungsikan sebagai sebuah rumah transit para suster yang bepergian ke Malang dan tempat penerimaan kiriman barang-barang (sebelumnya dialamatkan ke Jl. Sugiyopranoto No. 2, Provinsialat Karmel). Maka pada tanggal 7 Maret 1994 rumah Jayagiri mulai ditempati oleh para suster.

 

III.      BIARA ST. IMELDA DAN RUMAH RETRET LEMBAH KARMEL, CIKANYERE

Biara St. Imelda terletak di dalam lokasi Rumah Retret Lembah Karmel, milik bersama Kongregasi Putri Karmel dan CSE (Carmelitae Sancti Eliae), maka jelaslah bahwa sejarah berdirinya biara ini tidak bisa dipisahkan dengan Rumah Retret Lembah Karmel.

Rumah Retret Lembah Karmel ini didirikan sebagai suatu tempat wisata rohani, namun sekarang ini izin telah diubah secara resmi menjadi rumah retret dan tempat peziarahan. Pembangunannya dimulai pada bulan Januari 1994, yaitu dengan dilakukan upacara peletakan batu pertama rumah retret yang dilakukan oleh Mgr. Leo Soekoto.

Tuhan mengetuk hati banyak orang untuk membantu dalam pembangunan tempat ini sehingga sumbangan-sumbangan, baik berupa uang ataupun material, terus mengalir dari mana-mana tanpa diminta, baik besar maupun kecil. Sungguh agung dan maha besar karya Allah bagi mereka yang percaya kepada-Nya sehingga akhirnya pada hari Sabtu, tanggal 13 April 1996 Rumah Retret Lembah Karmel diberkati oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFMUskup Bogor.

Ketika rumah retret diberkati, susteran masih belum ada dan para suster untuk sementara menempati salah satu unit rumah retret. Kemudian direncanakan untuk mulai membangun susteran. Untuk pembangunan ini, Tuhan menggerakkan seorang penderma untuk menyumbang pembangunan tersebut seluruhnya, sehingga seluruh bangunan susteran dibangun atas biayanya. Pemberkatan biara susteran dilakukan secara sederhana oleh Mgr. Michael Angkur pada tanggal 22 Januari 1998.

 

IV.       CABANG SABAH, KEUSKUPAN KENINGAU

Berdirinya komunitas Putri Karmel di Keuskupan Keningau, SabahMalaysia, diawali oleh kunjungan Romo Yohanes pada tahun 1989 untuk menjadi pembicara dalam suatu Konvensi Karismatik di Sabah. Pada tahun-tahun berikutnya, setiap kali ada undangan, Romo selalu datang bersama dengan beberapa suster dan frater. Saat itulah ada beberapa pemuda dan pemudi yang datang dan berbicara tentang keinginan mereka untuk bergabung dengan Putri Karmel dan CSE. Akhirnya Romo mulai menghubungi Bishop John Lee, Uskup Kota Kinabalu, untuk menanyakan kemungkinan pembukaan cabang di Sabah. Saat itu di Sabah hanya ada satu keuskupan. Beliau menyatakan bahwa hal itu mungkin bila ada calon-calon dari Sabah sendiri.

Setelah diadakan Retret Panggilan di Sabah, ada beberapa gadis merasa mantap untuk memulai cabang baru Putri Karmel di Sabah. Maka proses untuk mendirikan cabang pun mulai dirintis. Pada awal tahun 1997, empat gadis datang ke Indonesia untuk menjalani pembinaan awal. Sementara itu situasi di Sabah mulai berubah. Sabah dipecah menjadi 2 keuskupan. Keuskupan yang baru adalah Keuskupan Keningau dengan Mgr. Cornelius Piong sebagai uskup pertama. Karena perubahan-perubahan yang terjadi di Sabah dan dalam keuskupan Kota Kinabalu sendiri, akhirya diputuskan untuk memulai biara Putri Karmel di Keuskupan Keningau, yang disambut dengan tangan terbuka oleh Mgr. Cornelius Piong.

Pada tanggal 10 Agustus 1997 Kongregasi Putri Karmel diterima secara resmi di SabahMalaysia, oleh Mgr. Cornelius Piong, dalam perayaan Ekaristi hari Minggu di misa ke-2 di Katedral St. Francis Xavier. Mereka menempati rumah retret milik keuskupan di Tenom.

Setelah beberapa tahun menempati rumah retret di Tenom, dirasakan kebutuhan untuk mempunyai rumah retret sendiri. Maka berdasarkan pertimbangan yang dibicarakan bersama, dan demi efektivitas, mobilitas, finansial dan kesesuaian dengan spiritualitas serta visi dan misi Putri Karmel, maka KaingaranTambunan dipilih menjadi tempat Pertapaan Putri Karmel di Sabah.

Sungguh besar penyelenggaraan Allah. Banyak sekali para Sahabat yang membantu, baik dari Indonesia maupun dari Sabah, yang dikenal dengan sebutan Sahabat Karmel”. Bahkan suatu hal tidak disangka-sangka adalah datangnya bantuan finansial dari negara dalam jumlah yang besar, yang mampu menutup separuh dari biaya pembangunan seluruhnya. Akhirnya pembangunan pertapaan dimulai dengan peletakan batu pertama pada hari Minggu, Hari Raya Kristus Raja, 22 November 1998 oleh Bapak Uskup.

Pemandangan di sini sangat indah, dikelilingi hutan-hutan dengan pohon-pohon yang besar dan tinggi. Biara ini didirikan di atas bukit. Di bagian lembah terdapat sungai yang cukup besar dengan arus yang cukup deras, bahkan di saat hening suara arus terdengar di atas bukit.

Pembangunan berjalan dengan lancar sampai akhirnya diberkati pada tanggal 19 Maret 2000 oleh Bapak Uskup dan secara resmi pertapaan diberi nama PERTAPAAN KARMEL SANTO YOSEF dengan kapel yang dipersembahkan untuk menghormati Bunda Maria dari Gunung Karmel.

 

V.         CABANG MEDAN

Rencana-Ku bukanlah rencanamu, jalan-Ku bukanlah jalanmu.... Inilah yang dialami oleh Kongregasi Putri Karmel dalam mengembangkan sayapnya di bumi Indonesia tercinta.

Pada awalnya tidak ada niat dan rencana untuk mendirikan biara atau membuka cabang di Medan. Tetapi, pada tahun 1992 ada tawaran dari sekelompok umat di Medan yang telah membangun sebuah jalan salib dan sebuah kapel di Sibiru-biru, Deli Tua, supaya Putri Karmel mengambil alih tempat itu serta mengelolanya. Akan tetapi, tempat itu kurang cocok untuk rumah retret, maka dicarilah lahan yang cocok untuk tujuan itu. Akhirnya, melalui panitia dan para penderma yang begitu murah hati, diberikan sebidang tanah yang cukup luas untuk mendirikan biara dan rumah retret.

Para Suster mulai membuka cabang di Medan pada tanggal 6 Agustus 1997. Sementara waktu mereka menempati rumah yang dipinjamkan oleh seorang bapak, sampai pada tahun 1998 susteran selesai dibangun. Pemberkatan susteran dilakukan oleh Mgr. A.G. Pius Datubara, OFM.CapUskup Agung Medandan dihadiri oleh panitia dan juga para Romo Karmel Sumut. Walaupun letak biara agak jauh dari Medan, kira-kira 30 km dan jalannya susah ditempuh namun ternyata umat yang datang berkunjung dan minta pelayanan cukup banyak.

 

VI.       PEMBUKAAN RUMAH STUDI DI ITALIA

Sejak tahun 1985 Romo Yohanes sudah mulai mengirim beberapa suster untuk studi atau kursus di luar negeri, di antaranya adalah di Roma, India, dan Amerika Serikat. Dari tahun ke tahun, jumlah suster yang diberi kesempatan untuk melanjutkan studi makin lama makin banyak, seiring dengan perkembangan kebutuhan kongregasi. Dan, yang paling banyak para suster dikirim untuk studi di Roma karena adanya program beasiswa dari berbagai organisasi. Suatu hari di bulan Maret 2003, seorang suster Ursulin Indonesia yang bekerja di Roma sebagai Ekonom Jendral, menelepon salah seorang suster yang sedang studi dan menawari sebuah rumah kosong milik Ursulin yang letaknya di dalam kebun belakang rumah pusat Ursulin di Roma. Putri Karmel bisa memakai rumah itu untuk para suster yang studi di Roma. Putri Karmel tidak perlu membayar uang sewa, tetapi hanya perlu membayar biaya pemakaian gas, listrik, air, telepon, dan biaya perawatan rumah. Tawaran itu sangat mengejutkan.

Pada tanggal 25 April 2003, para suster mulai pindah dari tempat kos masing-masing. Pada saat perpindahan itu kembali para suster melihat bagaimana penyelenggaraan Allah yang luar biasa dan kasih-Nya yang dilimpahkan melalui banyak imam Indonesia yang studi di Roma. Mereka bergotong-royong membantu para suster. Maka pada tanggal 24 Juni 2003, rumah diberkati oleh Rm. Ferry S. Pr dari Keuskupan Bandung dengan dihadiri oleh beberapa romo Indonesia, dan beberapa suster pimpinan Ursulin.

Berbagai pengalaman akan kasih Allah dirasakan oleh para suster yang studi, terutama saat Allah menyatakan kuasa-Nya ketika mereka berhadapan dengan kelemahan dan keterbatasan mereka dalam bahasa Italia. Allah sungguh-sungguh bekerja dalam diri mereka yang mau taat dalam melaksanakan kehendak-Nya.

Selama 5 tahun para suster mengalami kasih dan penyelenggaraan Tuhan melalui kebaikan hati para Suster Ursulin. Tetapi, pada akhirnya mereka pun meminta kembali rumah tersebut untuk keperluan Kongregasi mereka. Pada tanggal 1 Juli 2008, ke-4 suster yang tinggal di sana meninggalkan Biara Ursulin. Karena masih belum memiliki rumah sendiri,  maka untuk sementara waktu ke-4 suster yang ada di Roma tinggal di 2 kongregasi, yaitu Suore Discepole di Gesù Eucaristico dan Suore di Nostra Signora della Consolazione.

Romo Yohanes dan para suster pimpinan menyadari bahwa Putri Karmel perlu memiliki sebuah rumah studi di Roma, mengingat adanya kesinambungan mengirim para suster untuk studi di sana. Maka mulailah para suster mencari informasi dari berbagai pihak, juga melihat dalam iklan-iklan dan buku penjualan rumah. Sampai akhirnya didapatlah informasi tentang sebuah rumah di Attigliano. Rumah ini letaknya di luar kota Roma +/- 60 km. Kami bersyukur karena Tuhan mengirimkan banyak penderma yang membantu kami dalam pembelian rumah ini. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan mereka dengan rahmat dan berkat yang melimpah.

Pada 27 April 2009 rumah studi di Via della Croce, 33, 05012 Attigliano diberkati oleh Romo Paroki Attigliano dengan nama CASA TERESINA (Rumah St. Theresia Kecil).

 

VII.     PEMBUKAAN KOMUNITAS PADANG GURUN BEATA ELISABETH DARI TRINITAS

Setelah Putri Karmel berkembang dengan cukup mantap, maka sesuai dengan cita-cita Kongregasi, maka pada tanggal 1 November 1988, dimulailah Komunitas Padang Gurun di Ngadireso, yaitu komunitas yang membaktikan diri seluruhnya untuk doa dan kontemplasi. Komunitas ini tidak memberikan pelayanan aktif sama sekali dan mereka merupakan bagian yang integral dari Kongregasi Putri Karmel.

Hubungan Komunitas Padang Gurun dan Komunitas Putri Karmel bukan Padang Gurun, bagaikan hubungan antara Musa dan Yosua dalam Kitab Keluaran 17:9-12. Pada waktu Yosua harus berperang, Musa berdoa di atas bukit memohon supaya kuasa Allah bekerja pada diri Yosua dan tentaranya. Akhirnya, Yosua pun memenangkan peperangan. Demikian pula halnya dengan Putri Karmel. Semakin berkembang pelayanan Putri Karmel, maka kehadiran Komunitas Padang Gurun sebagai “Musa” sangat dibutuhkan.

Dimulainya Komunitas Padang Gurun Putri Karmel berdekatan dengan lokasi Lembah KarmelCikanyere, adalah salah satu wujud lain dari kemantapan perkembangan Putri Karmel. Karena perkembangan Kongregasi, baik dalam kualitas maupun kuantitas, maka dirasakan kehadiran Komunitas Padang Gurun benar-benar sangat dibutuhkan.

Pada tanggal 15 Agustus 2003, pada Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga, Komunitas Padang Gurun di Cikanyere diberkati dan diresmikan oleh Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm, Fr. John Malley, O.Carm, dan Romo Blasius, Pr. Komunitas Padang Gurun ini mengambil nama BEATA ELISABET DARI TRINITAS sebagai pelindung para suster.

 

VIII.   PEMBUKAAN RUMAH CABANG DI SAN FRANCISCO

Pembukaan rumah cabang di San Francisco mulai dirintis pada bulan Mei 1998, ketika Ibu Kim Liem mengundang 2 suster Putri Karmel, yaitu Sr. Justini, P.Karm dan Sr. Agata, P. Karm, untuk memberikan Retret Awal di San Francisco. Setelah retret selesai, para suster memperkenalkan Persekutuan Doa kepada komunitas WKICU. Maka kelompok PD Kebangkitan pun dimulai di San Francisco. Pada saat yang sama, Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) sudah mulai dibentuk di Columbus, Ohio.

Setelah terbentuknya KTM di California, Columbus, dan Canada, maka makin terasa akan kebutuhan tambahan spiritualitas Karismatik dan Karmel  dari komunitas-komunitas Indonesia di wilayah West Coast and East Coast.  Umat Katolik di Bay Area mencari kemungkinan dibukanya cabang Putri Karmel di USA untuk memberikan bimbingan kepada KTM yang bertumbuh seperti jamur. Maka tahun 2002-2004 untuk memenuhi kebutuhan KTM dan para umat lainnya, maka sering kali pada saat liburan musim panas, Putri Karmel mendatangkan suster-susternya dari Roma untuk belajar Bahasa Inggris, sambil memberikan pelayanan. 

Melihat kebutuhan umat katolik Indonesia di San Francisco yang merindukan pelayanan rohani maka mulailah Romo Yohanes dan para suster melakukan pendekatan dengan Uskup setempat, misalnya Romo Yohanes mengunjungi Keuskupan Agung San Francisco, dan berkenalan dengan Uskup John Wester.  Di wilayah California Selatan, Romo juga diperkenalkan dengan beberapa keuskupan, yaitu Keuskupan Orange County dan San Bernadino. Pada bulan November 2004, melalui Deacon Mark, Romo Yohanes berkenalan dengan Uskup Agung San Francisco, yaitu Uskup Levada di Roma. Dalam pertemuan mereka, Uskup Agung Levada menyatakan bahwa banyak biara yang ditutup di wilayah keuskupannya dan beliau bersedia mengundang Putri Karmel untuk menempati salah satu biara di San Francisco. 

Tetapi, pada bulan Mei 2005, ketika Uskup Agung Levada diangkat menjadi Kardinal, perjalanan “ground breaking” Putri Karmel di San Francisco sempat tertunda. Romo Yohanes datang kembali ke San Francisco untuk menghadiri penahbisan imamat Fr. Mark Reburiano, dan pada saat yang sama bertemu dengan Uskup Ignatius Wang, wakil uskup saat itu, yang bersedia meneruskan kembali kemungkinan keberadaan Putri Karmel di Keuskupan Agung San Francisco. Pada saat itu secara resmi Putri Karmel memberikan proposal kepada keuskupan San Francisco atas kehendaknya untuk diterima menjadi salah satu kongregasi biarawati di keuskupan ini.

Maka pada tanggal 4 Maret 2008 Uskup Wang mengirim surat  resmi yang menyatakan bahwa Keuskupan Agung San Francisco mengundang para Suster Putri Karmel untuk melakukan pelayanan di San Francisco. Pada saat yang hampir bersamaan, Yanli Guerzon mendapatkan kabar dari Fr. Joe Landi dari Paroki St. Cecilia bahwa Biara St. Cecilia lantai 3 tersebut kosong. Permohonan segera diajukan kepada Mgr. Michael Harriman, pastor Paroki St. Cecilia, dan memberitahukan bahwa izin kehadiran Putri Karmel sudah resmi namun membutuhkan tempat biara. Setelah bertahun-tahun menunggu dan mencari biara kosong, akhirnya Mgr. Harriman adalah pastor pertama yang memberikan izin kepada Putri Karmel untuk menempati biara St. Cecilia di San Francisco, California.

Akhirnya pada tanggal 1 Mei 2009, pada Hari Pesta St. Joseph, Pekerja seorang suster Putri Karmel pertama tiba di San Francisco dan tinggal sementara di sebuah keluarga di kota San Jose, California.  Tanggal 7 Mei, Uskup Wang mengirimkan surat resmi “Selamat Datang” kepada Putri Karmel yang diwakili oleh Sr. Priscilla.  Pada 8 Juni 2009 Putri Karmel resmi menempati “St. Cecilia Convent” yang beralamat di 2550 18th Avenue, San Francisco—California.

Dan, pada 26 September 2009 Biara para suster Putri Karmel di USA diresmikan dalam sebuah misa dengan Selebran Utama pastor paroki St. Cecilia, Mgr. Michael Harriman. Hadir pula para anggota Komunitas Tritunggal Mahakudus dan juga wakil-wakil dari masyarakat Indonesia di Amerika untuk bersyukur atas kebaikan Tuhan.

Setelah beradaptasi dengan keadaan di Amerika, maka pada 11 Desember 2009, diadakanlah  pelayanan perdana Suster Putri Karmel USA pada Persekutuan Doa di Los Angeles, California. Selanjutnya mulailah permintaan pelayanan para suster yang tidak terbatas hanya di California, tetapi juga di berbagai State di USA dan Kanada.

Setelah melalui beberapa proses, akhirnya pada tanggal 8 Desember 2009, bertepatan juga dengan ulang tahun Pertapaan Karmel, Ngadireso, The Daughters of Carmel (Congregation of Putri Karmel) terdaftar di Secretary State of California yang diwakili oleh Tobin & Tobin Profesional Corporation.

Pada saat yang berbahagia, tanggal 19 Maret 2010,  pada Hari Raya St. Joseph dan juga hari ulang tahun Putri Karmel, The Daughters of Carmel (Congregation of Putri Karmel) terdaftar secara resmi dalam buku “Official Catholic Directory”, United States Conference of Catholic Bishops (USCCB) edisi 2010, berdasarkan surat Chancellor Keuskupan Agung San Francisco:  Fr. C. Michael Padazinski.

Normal 0 false false false EN-US KO X-NONE

I.          KEUSKUPAN RUTENG

Ruteng merupakan rumah cabang pertama yang dibuka oleh Putri Karmel. Pada tanggal 19 Maret 1992, Putri Karmel memulai komunitas di Ruteng di daerah Cewonikit. Kasih dan Penyelenggaraan Ilahi menyertai proses pembukaan rumah cabang di Ruteng melalui Bapak Uskup Mgr. Eduardus yang terbuka untuk menerima Putri Karmel di Keuskupannya. Sedangkan rumah retret dibangun di kelurahan GolodukalWae Lengkas, untuk menampung umat yang ingin mengikuti program retret yang diadakan oleh para suster ataupun kelompok-kelompok yang mau meminjam tempat untuk mengadakan retret/rekoleksi. Rumah retret ini mulai dikaryakan tahun 2003 dan diberkati oleh Bapak Uskup Mgr. Eduardus pada tanggal 11 Februari 2004 dengan mengambil nama: RUMAH RETRET MARIA BUNDA KARMEL.

 

II.        RUMAH STUDI ST. TERESA AVILA, MALANG

Rumah studi St. Teresa Avila terletak di Keuskupan Malang, tepatnya di Jl. Jayagiri No. 15, Malang. Letaknya berdekatan dengan STFT Widya Sasana dan beberapa biara dari Kongregasi lain, yaitu Susteran Misericordia, Biara Titus Brandsma—milik Ordo Karmel, dan Seminari Tinggi para Frater SVD.

Bila melihat proses kepemilikan rumah ini, nampak dengan jelas bahwa Penyelenggaraan Ilahi memegang peranan sangat besar. Proses ini dimulai dalam pembicaraan dengan para suster pelayan Putri Karmel tahun 1993. Tercetuslah suatu pikiran bahwa sudah saatnya Putri Karmel memiliki sebuah rumah di Malang dengan tujuan utama sebagai tempat tinggal para suster yang studi di STFT Widya Sasana. Tetapi, selain sebagai rumah studi juga akan difungsikan sebagai sebuah rumah transit para suster yang bepergian ke Malang dan tempat penerimaan kiriman barang-barang (sebelumnya dialamatkan ke Jl. Sugiyopranoto No. 2, Provinsialat Karmel). Maka pada tanggal 7 Maret 1994 rumah Jayagiri mulai ditempati oleh para suster.

 

III.      BIARA ST. IMELDA DAN RUMAH RETRET LEMBAH KARMEL, CIKANYERE

Biara St. Imelda terletak di dalam lokasi Rumah Retret Lembah Karmel, milik bersama Kongregasi Putri Karmel dan CSE (Carmelitae Sancti Eliae), maka jelaslah bahwa sejarah berdirinya biara ini tidak bisa dipisahkan dengan Rumah Retret Lembah Karmel.

Rumah Retret Lembah Karmel ini didirikan sebagai suatu tempat wisata rohani, namun sekarang ini izin telah diubah secara resmi menjadi rumah retret dan tempat peziarahan. Pembangunannya dimulai pada bulan Januari 1994, yaitu dengan dilakukan upacara peletakan batu pertama rumah retret yang dilakukan oleh Mgr. Leo Soekoto.

Tuhan mengetuk hati banyak orang untuk membantu dalam pembangunan tempat ini sehingga sumbangan-sumbangan, baik berupa uang ataupun material, terus mengalir dari mana-mana tanpa diminta, baik besar maupun kecil. Sungguh agung dan maha besar karya Allah bagi mereka yang percaya kepada-Nya sehingga akhirnya pada hari Sabtu, tanggal 13 April 1996 Rumah Retret Lembah Karmel diberkati oleh Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFMUskup Bogor.

Ketika rumah retret diberkati, susteran masih belum ada dan para suster untuk sementara menempati salah satu unit rumah retret. Kemudian direncanakan untuk mulai membangun susteran. Untuk pembangunan ini, Tuhan menggerakkan seorang penderma untuk menyumbang pembangunan tersebut seluruhnya, sehingga seluruh bangunan susteran dibangun atas biayanya. Pemberkatan biara susteran dilakukan secara sederhana oleh Mgr. Michael Angkur pada tanggal 22 Januari 1998.

 

IV.       CABANG SABAH, KEUSKUPAN KENINGAU

Berdirinya komunitas Putri Karmel di Keuskupan Keningau, SabahMalaysia, diawali oleh kunjungan Romo Yohanes pada tahun 1989 untuk menjadi pembicara dalam suatu Konvensi Karismatik di Sabah. Pada tahun-tahun berikutnya, setiap kali ada undangan, Romo selalu datang bersama dengan beberapa suster dan frater. Saat itulah ada beberapa pemuda dan pemudi yang datang dan berbicara tentang keinginan mereka untuk bergabung dengan Putri Karmel dan CSE. Akhirnya Romo mulai menghubungi Bishop John Lee, Uskup Kota Kinabalu, untuk menanyakan kemungkinan pembukaan cabang di Sabah. Saat itu di Sabah hanya ada satu keuskupan. Beliau menyatakan bahwa hal itu mungkin bila ada calon-calon dari Sabah sendiri.

Setelah diadakan Retret Panggilan di Sabah, ada beberapa gadis merasa mantap untuk memulai cabang baru Putri Karmel di Sabah. Maka proses untuk mendirikan cabang pun mulai dirintis. Pada awal tahun 1997, empat gadis datang ke Indonesia untuk menjalani pembinaan awal. Sementara itu situasi di Sabah mulai berubah. Sabah dipecah menjadi 2 keuskupan. Keuskupan yang baru adalah Keuskupan Keningau dengan Mgr. Cornelius Piong sebagai uskup pertama. Karena perubahan-perubahan yang terjadi di Sabah dan dalam keuskupan Kota Kinabalu sendiri, akhirya diputuskan untuk memulai biara Putri Karmel di Keuskupan Keningau, yang disambut dengan tangan terbuka oleh Mgr. Cornelius Piong.

Pada tanggal 10 Agustus 1997 Kongregasi Putri Karmel diterima secara resmi di SabahMalaysia, oleh Mgr. Cornelius Piong, dalam perayaan Ekaristi hari Minggu di misa ke-2 di Katedral St. Francis Xavier. Mereka menempati rumah retret milik keuskupan di Tenom.

Setelah beberapa tahun menempati rumah retret di Tenom, dirasakan kebutuhan untuk mempunyai rumah retret sendiri. Maka berdasarkan pertimbangan yang dibicarakan bersama, dan demi efektivitas, mobilitas, finansial dan kesesuaian dengan spiritualitas serta visi dan misi Putri Karmel, maka KaingaranTambunan dipilih menjadi tempat Pertapaan Putri Karmel di Sabah.

Sungguh besar penyelenggaraan Allah. Banyak sekali para Sahabat yang membantu, baik dari Indonesia maupun dari Sabah, yang dikenal dengan sebutan Sahabat Karmel”. Bahkan suatu hal tidak disangka-sangka adalah datangnya bantuan finansial dari negara dalam jumlah yang besar, yang mampu menutup separuh dari biaya pembangunan seluruhnya. Akhirnya pembangunan pertapaan dimulai dengan peletakan batu pertama pada hari Minggu, Hari Raya Kristus Raja, 22 November 1998 oleh Bapak Uskup.

Pemandangan di sini sangat indah, dikelilingi hutan-hutan dengan pohon-pohon yang besar dan tinggi. Biara ini didirikan di atas bukit. Di bagian lembah terdapat sungai yang cukup besar dengan arus yang cukup deras, bahkan di saat hening suara arus terdengar di atas bukit.

Pembangunan berjalan dengan lancar sampai akhirnya diberkati pada tanggal 19 Maret 2000 oleh Bapak Uskup dan secara resmi pertapaan diberi nama PERTAPAAN KARMEL SANTO YOSEF dengan kapel yang dipersembahkan untuk menghormati Bunda Maria dari Gunung Karmel.

 

V.         CABANG MEDAN

Rencana-Ku bukanlah rencanamu, jalan-Ku bukanlah jalanmu.... Inilah yang dialami oleh Kongregasi Putri Karmel dalam mengembangkan sayapnya di bumi Indonesia tercinta.

Pada awalnya tidak ada niat dan rencana untuk mendirikan biara atau membuka cabang di Medan. Tetapi, pada tahun 1992 ada tawaran dari sekelompok umat di Medan yang telah membangun sebuah jalan salib dan sebuah kapel di Sibiru-biru, Deli Tua, supaya Putri Karmel mengambil alih tempat itu serta mengelolanya. Akan tetapi, tempat itu kurang cocok untuk rumah retret, maka dicarilah lahan yang cocok untuk tujuan itu. Akhirnya, melalui panitia dan para penderma yang begitu murah hati, diberikan sebidang tanah yang cukup luas untuk mendirikan biara dan rumah retret.

Para Suster mulai membuka cabang di Medan pada tanggal 6 Agustus 1997. Sementara waktu mereka menempati rumah yang dipinjamkan oleh seorang bapak, sampai pada tahun 1998 susteran selesai dibangun. Pemberkatan susteran dilakukan oleh Mgr. A.G. Pius Datubara, OFM.CapUskup Agung Medandan dihadiri oleh panitia dan juga para Romo Karmel Sumut. Walaupun letak biara agak jauh dari Medan, kira-kira 30 km dan jalannya susah ditempuh namun ternyata umat yang datang berkunjung dan minta pelayanan cukup banyak.

 

VI.       PEMBUKAAN RUMAH STUDI DI ITALIA

Sejak tahun 1985 Romo Yohanes sudah mulai mengirim beberapa suster untuk studi atau kursus di luar negeri, di antaranya adalah di Roma, India, dan Amerika Serikat. Dari tahun ke tahun, jumlah suster yang diberi kesempatan untuk melanjutkan studi makin lama makin banyak, seiring dengan perkembangan kebutuhan kongregasi. Dan, yang paling banyak para suster dikirim untuk studi di Roma karena adanya program beasiswa dari berbagai organisasi. Suatu hari di bulan Maret 2003, seorang suster Ursulin Indonesia yang bekerja di Roma sebagai Ekonom Jendral, menelepon salah seorang suster yang sedang studi dan menawari sebuah rumah kosong milik Ursulin yang letaknya di dalam kebun belakang rumah pusat Ursulin di Roma. Putri Karmel bisa memakai rumah itu untuk para suster yang studi di Roma. Putri Karmel tidak perlu membayar uang sewa, tetapi hanya perlu membayar biaya pemakaian gas, listrik, air, telepon, dan biaya perawatan rumah. Tawaran itu sangat mengejutkan.

Pada tanggal 25 April 2003, para suster mulai pindah dari tempat kos masing-masing. Pada saat perpindahan itu kembali para suster melihat bagaimana penyelenggaraan Allah yang luar biasa dan kasih-Nya yang dilimpahkan melalui banyak imam Indonesia yang studi di Roma. Mereka bergotong-royong membantu para suster. Maka pada tanggal 24 Juni 2003, rumah diberkati oleh Rm. Ferry S. Pr dari Keuskupan Bandung dengan dihadiri oleh beberapa romo Indonesia, dan beberapa suster pimpinan Ursulin.

Berbagai pengalaman akan kasih Allah dirasakan oleh para suster yang studi, terutama saat Allah menyatakan kuasa-Nya ketika mereka berhadapan dengan kelemahan dan keterbatasan mereka dalam bahasa Italia. Allah sungguh-sungguh bekerja dalam diri mereka yang mau taat dalam melaksanakan kehendak-Nya.

Selama 5 tahun para suster mengalami kasih dan penyelenggaraan Tuhan melalui kebaikan hati para Suster Ursulin. Tetapi, pada akhirnya mereka pun meminta kembali rumah tersebut untuk keperluan Kongregasi mereka. Pada tanggal 1 Juli 2008, ke-4 suster yang tinggal di sana meninggalkan Biara Ursulin. Karena masih belum memiliki rumah sendiri,  maka untuk sementara waktu ke-4 suster yang ada di Roma tinggal di 2 kongregasi, yaitu Suore Discepole di Gesù Eucaristico dan Suore di Nostra Signora della Consolazione.

Romo Yohanes dan para suster pimpinan menyadari bahwa Putri Karmel perlu memiliki sebuah rumah studi di Roma, mengingat adanya kesinambungan mengirim para suster untuk studi di sana. Maka mulailah para suster mencari informasi dari berbagai pihak, juga melihat dalam iklan-iklan dan buku penjualan rumah. Sampai akhirnya didapatlah informasi tentang sebuah rumah di Attigliano. Rumah ini letaknya di luar kota Roma +/- 60 km. Kami bersyukur karena Tuhan mengirimkan banyak penderma yang membantu kami dalam pembelian rumah ini. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan mereka dengan rahmat dan berkat yang melimpah.

Pada 27 April 2009 rumah studi di Via della Croce, 33, 05012 Attigliano diberkati oleh Romo Paroki Attigliano dengan nama CASA TERESINA (Rumah St. Theresia Kecil).

 

VII.     PEMBUKAAN KOMUNITAS PADANG GURUN BEATA ELISABETH DARI TRINITAS

Setelah Putri Karmel berkembang dengan cukup mantap, maka sesuai dengan cita-cita Kongregasi, maka pada tanggal 1 November 1988, dimulailah Komunitas Padang Gurun di Ngadireso, yaitu komunitas yang membaktikan diri seluruhnya untuk doa dan kontemplasi. Komunitas ini tidak memberikan pelayanan aktif sama sekali dan mereka merupakan bagian yang integral dari Kongregasi Putri Karmel.

Hubungan Komunitas Padang Gurun dan Komunitas Putri Karmel bukan Padang Gurun, bagaikan hubungan antara Musa dan Yosua dalam Kitab Keluaran 17:9-12. Pada waktu Yosua harus berperang, Musa berdoa di atas bukit memohon supaya kuasa Allah bekerja pada diri Yosua dan tentaranya. Akhirnya, Yosua pun memenangkan peperangan. Demikian pula halnya dengan Putri Karmel. Semakin berkembang pelayanan Putri Karmel, maka kehadiran Komunitas Padang Gurun sebagai “Musa” sangat dibutuhkan.

Dimulainya Komunitas Padang Gurun Putri Karmel berdekatan dengan lokasi Lembah KarmelCikanyere, adalah salah satu wujud lain dari kemantapan perkembangan Putri Karmel. Karena perkembangan Kongregasi, baik dalam kualitas maupun kuantitas, maka dirasakan kehadiran Komunitas Padang Gurun benar-benar sangat dibutuhkan.

Pada tanggal 15 Agustus 2003, pada Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga, Komunitas Padang Gurun di Cikanyere diberkati dan diresmikan oleh Romo Yohanes Indrakusuma, O.Carm, Fr. John Malley, O.Carm, dan Romo Blasius, Pr. Komunitas Padang Gurun ini mengambil nama BEATA ELISABET DARI TRINITAS sebagai pelindung para suster.

 

VIII.   PEMBUKAAN RUMAH CABANG DI SAN FRANCISCO

Pembukaan rumah cabang di San Francisco mulai dirintis pada bulan Mei 1998, ketika Ibu Kim Liem mengundang 2 suster Putri Karmel, yaitu Sr. Justini, P.Karm dan Sr. Agata, P. Karm, untuk memberikan Retret Awal di San Francisco. Setelah retret selesai, para suster memperkenalkan Persekutuan Doa kepada komunitas WKICU. Maka kelompok PD Kebangkitan pun dimulai di San Francisco. Pada saat yang sama, Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) sudah mulai dibentuk di Columbus, Ohio.

Setelah terbentuknya KTM di California, Columbus, dan Canada, maka makin terasa akan kebutuhan tambahan spiritualitas Karismatik dan Karmel  dari komunitas-komunitas Indonesia di wilayah West Coast and East Coast.  Umat Katolik di Bay Area mencari kemungkinan dibukanya cabang Putri Karmel di USA untuk memberikan bimbingan kepada KTM yang bertumbuh seperti jamur. Maka tahun 2002-2004 untuk memenuhi kebutuhan KTM dan para umat lainnya, maka sering kali pada saat liburan musim panas, Putri Karmel mendatangkan suster-susternya dari Roma untuk belajar Bahasa Inggris, sambil memberikan pelayanan. 

Melihat kebutuhan umat katolik Indonesia di San Francisco yang merindukan pelayanan rohani maka mulailah Romo Yohanes dan para suster melakukan pendekatan dengan Uskup setempat, misalnya Romo Yohanes mengunjungi Keuskupan Agung San Francisco, dan berkenalan dengan Uskup John Wester.  Di wilayah California Selatan, Romo juga diperkenalkan dengan beberapa keuskupan, yaitu Keuskupan Orange County dan San Bernadino. Pada bulan November 2004, melalui Deacon Mark, Romo Yohanes berkenalan dengan Uskup Agung San Francisco, yaitu Uskup Levada di Roma. Dalam pertemuan mereka, Uskup Agung Levada menyatakan bahwa banyak biara yang ditutup di wilayah keuskupannya dan beliau bersedia mengundang Putri Karmel untuk menempati salah satu biara di San Francisco. 

Tetapi, pada bulan Mei 2005, ketika Uskup Agung Levada diangkat menjadi Kardinal, perjalanan “ground breaking” Putri Karmel di San Francisco sempat tertunda. Romo Yohanes datang kembali ke San Francisco untuk menghadiri penahbisan imamat Fr. Mark Reburiano, dan pada saat yang sama bertemu dengan Uskup Ignatius Wang, wakil uskup saat itu, yang bersedia meneruskan kembali kemungkinan keberadaan Putri Karmel di Keuskupan Agung San Francisco. Pada saat itu secara resmi Putri Karmel memberikan proposal kepada keuskupan San Francisco atas kehendaknya untuk diterima menjadi salah satu kongregasi biarawati di keuskupan ini.

Maka pada tanggal 4 Maret 2008 Uskup Wang mengirim surat  resmi yang menyatakan bahwa Keuskupan Agung San Francisco mengundang para Suster Putri Karmel untuk melakukan pelayanan di San Francisco. Pada saat yang hampir bersamaan, Yanli Guerzon mendapatkan kabar dari Fr. Joe Landi dari Paroki St. Cecilia bahwa Biara St. Cecilia lantai 3 tersebut kosong. Permohonan segera diajukan kepada Mgr. Michael Harriman, pastor Paroki St. Cecilia, dan memberitahukan bahwa izin kehadiran Putri Karmel sudah resmi namun membutuhkan tempat biara. Setelah bertahun-tahun menunggu dan mencari biara kosong, akhirnya Mgr. Harriman adalah pastor pertama yang memberikan izin kepada Putri Karmel untuk menempati biara St. Cecilia di San Francisco, California.

Akhirnya pada tanggal 1 Mei 2009, pada Hari Pesta St. Joseph, Pekerja seorang suster Putri Karmel pertama tiba di San Francisco dan tinggal sementara di sebuah keluarga di kota San Jose, California.  Tanggal 7 Mei, Uskup Wang mengirimkan surat resmi “Selamat Datang” kepada Putri Karmel yang diwakili oleh Sr. Priscilla.  Pada 8 Juni 2009 Putri Karmel resmi menempati “St. Cecilia Convent” yang beralamat di 2550 18th Avenue, San Francisco—California.

Dan, pada 26 September 2009 Biara para suster Putri Karmel di USA diresmikan dalam sebuah misa dengan Selebran Utama pastor paroki St. Cecilia, Mgr. Michael Harriman. Hadir pula para anggota Komunitas Tritunggal Mahakudus dan juga wakil-wakil dari masyarakat Indonesia di Amerika untuk bersyukur atas kebaikan Tuhan.

Setelah beradaptasi dengan keadaan di Amerika, maka pada 11 Desember 2009, diadakanlah  pelayanan perdana Suster Putri Karmel USA pada Persekutuan Doa di Los Angeles, California. Selanjutnya mulailah permintaan pelayanan para suster yang tidak terbatas hanya di California, tetapi juga di berbagai State di USA dan Kanada.

Setelah melalui beberapa proses, akhirnya pada tanggal 8 Desember 2009, bertepatan juga dengan ulang tahun Pertapaan Karmel, Ngadireso, The Daughters of Carmel (Congregation of Putri Karmel) terdaftar di Secretary State of California yang diwakili oleh Tobin & Tobin Profesional Corporation.

Pada saat yang berbahagia, tanggal 19 Maret 2010,  pada Hari Raya St. Joseph dan juga hari ulang tahun Putri Karmel, The Daughters of Carmel (Congregation of Putri Karmel) terdaftar secara resmi dalam buku “Official Catholic Directory”, United States Conference of Catholic Bishops (USCCB) edisi 2010, berdasarkan surat Chancellor Keuskupan Agung San Francisco:  Fr. C. Michael Padazinski.