Ungkapan Hati Frater-frater CSE Komunitas Studi

Dalam rangka 25 tahun CSE, para frater CSE yang tinggal di Rumah Studi (Skolastikat) St. Theresia Lisieux, Malang mempunyai cerita sendiri tentang kehidupan dan panggilan mereka sebagai frater studi/calon imam CSE. Mereka mau membagikan sukacita dan dukacita yang mereka alami sebagai calon-calon imam CSE, sebagai tumpuan dan masa depan CSE. Di atas semua itu, mereka mau bersyukur kepada Tuhan yang telah memanggil mereka dan menempatkan mereka dalam CSE. Mereka mau bersyukur atas ulang tahun CSE yang ke-25.

“Komunitas CSE telah memberi begitu banyak hal kepada saya pelajaran tentang kehidupan,” demikian diungkapkan frater Klimakus. Dia sungguh mengalami betapa indahnya kehidupan komunitas itu. Hal yang sama dikatakan frater Athanasius, “Hidup berkomunitas merupakan hidup yang indah.” Di sana mereka menemukan bagaimana Tuhan membantu mereka. Dalam komunitas, mereka berjuang baik menghadapi sesama maupun berjuang meniti panggilan mereka sebagai calon imam CSE terutama berkaitan dengan tugas belajar mereka. Hidup ini memang perjuangan. Tetapi apa artinya perjuangan, tanpa rahmat Tuhan? Maka dalam menghadapi perjuangan ini, “Perlu jatuh cinta setiap hari. Jatuh cinta mengandaikan adanya kerelaan, usaha untuk melakukan semuanya. Apabila tugas saya adalah belajar, maka saya harus jatuh cinta kepada studi; dan bukan itu saja, tetapi jatuh cinta dalam doa dan ibadat, kerja komunitas dan terlebih lagi jatuh cinta kepada sesama,” kata frater Hieronimus.  Benar, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari atas cinta. Kalau dalam hati kita ada cinta semuanya terasa ringan. Kalau ada cinta yang berkobar-kobar semuanya jadi indah, penghayatan panggilan menjadi indah, belajar juga jadi indah. Tetapi kalau tidak ada cinta, semua terasa berat. Apa yang mestinya ringan menjadi berat, apa lagi yang berat.

Menjadi imam di zaman sekarang memang bukanlah hal yang mudah. Bagi frater Gilbert, “Menjadi imam itu dibutuhkan perjuangan yang panjang bahkan harus disertai duka dan air mata.” Namun mereka yakin bahwa mereka tidak pernah berjalan sendiri karena Dia yang memanggil mereka adalah setia. “Bersama Tuhan, semua yang dilakukan lebih bermakna, kami menyerahkan semuanya kepada Yesus,” demikian keyakinan dan ketetapan hati frater Macarius.

Bagi frater Brendan, “Belajar merupakan tugas perutusan. Perutusan menuntut suatu kerelaan hati dan bukan paksaan.” Ada cinta yang harus menjadi dasar dari setiap tugas belajar. Maka, “Sesulit apa pun materi itu asal saya belajar dengan sungguh-sungguh dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan maka semuanya akan berjalan baik,” itu dikatakan frater Thierry.

Kesulitan yang dialami frater Daniel sungguh luar biasa. Dia berjuang belajar, karena dia belum lancar bahasa Indonesia dan semua kuliah dilakukan dalam bahasa Indonesia. Tetapi dia berhasil belajar dengan baik. Itu karena bantuan saudara dalam komunitas, para dosen dan juga karyawan-karyawati STFT. Frater Daniel merasa senang kuliah, walaupun banyak kesulitan dan dengan tuntutan yang tinggi membuat dia memaksa diri untuk belajar banyak hal mengenai Filsafat dan Teologi.

Memang semua frater seringkali mengalami perjuangan menanggapi panggilannya untuk menjadi frater studi demi persiapan menjadi seorang imam. Perjuangan itu bukan hanya dalam hal belajar Filsafat dan Teologi yang sarat dengan tuntutan intelektual tetapi juga berjuang untuk tetap beriman kepada Tuhan, melainkan berjuang untuk berdoa di tengah kelelahan otak karena belajar, berjuang untuk tetap memelihara persaudaraan dalam komunitas studi. Singkat kata, berjuang untuk setia dalam segala hal. Frater Serafim yang sudah selesai studinya di STFT mengungkapkan hal itu dengan mengatakan, “Kebebasan dan keberanian untuk selalu dan secara mantap menjalin relasi dengan Tuhan, karena tanpa relasi dengan Allah, tidak mungkin bisa setia dalam panggilan. Semua berasal dari Allah dan hanya Allah saja yang dapat menyelesaikan, maka bekerja sama dengan rahmat Allah itu mutlak diperlukan.” Hal ini bukan saja bagi frater-frater studi tetapi juga siapa saja yang mau mengikuti Tuhan.

Dalam kehidupan memang selalu ada pergumulan, apa pun status hidup kita. Tetapi satu hal yang pasti, Tuhan bekerja dalam pergumulan itu dan di sana Dia membentuk kita. Seperti yang dialami oleh frater Albert. “Saya akui bahwa di rumah studi ini, saya pernah mengalami kesedihan, kesepian, kecemasan, dan kekosongan. Tetapi, di sini juga saya bahagia, ceria dan sukacita. Di balik semua pengalaman ini, saya menemukan bahwa Tuhan Yesus yang membimbing saya sehingga sampai saat ini saya tetap setia. Dengan semua pengalaman itu, saya semakin dewasa dalam hidup baik hidup imanku maupun hidup panggilanku.”

Pengalaman, seperti kata pepatah, “selalu menjadi guru terbaik”. Ada suatu nilai kehidupan yang hendak diajarkan melalui pengalaman, entah itu pengalaman baik atau buruk, sukacita maupun dukacita. Di samping ada nilainya, ada rahmat Tuhan yang bekerja. Demikian juga keyakinan frater Giovanni yang telah menyelesaikan studinya tahun 2011. Setelah semuanya selesai dia melihat ke belakang bagaimana Tuhan bekerja, bagaimana Tuhan menanamkan jejak-Nya dalam pengalaman suka dan duka, gagal dan sukses dalam belajar. “Bisa saya katakan bahwa pengalaman suka maupun duka yang saya alami tidaklah sia-sia. Setelah saya refleksikan, di balik semuanya itu tersirat rahmat Allah yang membantu saya bisa berkembang seperti sekarang ini dan juga mengajari saya menjadi lebih dewasa.”

Peran sesama dalam proses belajar dan meniti panggilan ternyata sangat penting dan menentukan. Dengan adanya saudara-saudara yang tinggal bersama dalam komunitas, kita bisa saling sharing. Dengan adanya saudara-saudara kita bisa tertawa bersama, bercanda ria dalam rekreasi dan saling mengejek (red: tentunya mereka menyadari ada batasnya, sekedar bergurau). Tetapi, dengan adanya saudara-saudara kita pun bisa menangis bersama. Dengan persaudaraan, semuanya bercampur-baur menjadi satu. Boleh dikatakan bahwa persaudaraan itu menjadi kekuatan hidup komunitas. Ada perjuangan dalam persaudaraan menunjukkan arti dan nilai sebuah seni. Seni karena semuanya berjuang. Demikianlah yang dialami oleh frater-frater studi. Persaudaraan dalam komunitas memberikan kekuatan dan dukungan sendiri dalam studi dan panggilan. Seperti dikatakan frater Daniel, “Persaudaraan dalam komunitas studi senantiasa membantu dan memberi dukungan kepada saya sehingga saya bisa terus melangkah dalam studi saya sampai saat ini.” Hal yang sama di-sharing-kan frater Alvares. Dia bersyukur karena Tuhan mengutus saudara-saudara sekomunitas baginya. “Saya bersyukur karena dalam perjuangan dan pergumulan saya dalam studi banyak saudara yang membantu terutama saudara sekomunitas. Komunitas CSE telah memberikan banyak hal baik jasmani maupun rohani kepada saya. Hal itu menjadi kekuatan dan memberikan semangat yang pantang menyerah dalam menjalankan panggilan hidup dan studi.” Bagi frater Hieronimus, persaudaraan itu bagaikan obat. “Apabila ada kesulitan dalam belajar atau dalam hidup berkomunitas, persaudaraanlah yang menjadi obat yang paling mujarab untuk meningkatkan semangat.” Frater Irenius merasakan penghiburan dan sukacita dalam belajarnya karena adanya perjumpaan dengan saudara. Ia melihat bahwa persaudaraan di komunitas Tidar cukup kuat dan itu sangat membantunya dalam studi dan panggilan.

Salah satu perjuangan dan pergumulan frater-frater studi adalah menyeimbangkan antara penghayatan iman dan tuntutan studi. Hal ini tidak hanya diakui oleh frater-frater CSE yang masih studi tetapi juga frater-frater yang sekarang menjadi imam. Harus diakui, belajar Filsafat dan Teologi yang seringkali menuntut banyak berpikir dengan akal budi karena kadar intelektualnya sangat tinggi dapat membuat iman menjadi kering. Ini pulalah yang seringkali diingatkan Bapak Pendiri pada setiap kali pertemuan dengan frater-frater studi. Ini memang sangat penting. Jangan sampai ada frater CSE yang karena studi akhirnya kehilangan iman! Semua frater CSE yang pernah menjalankan masa studinya atau yang sekarang sedang menjalankan masa studinya berjuang dalam hal ini. Tetapi syukur kepada Allah sampai saat ini tidak ada frater yang sampai kehilangan iman, justru di sana mereka mengalami pemurnian. Seperti dikatakan frater Gilbert, “Syukur kepada Tuhan dengan berjalannya waktu, jatuh bangun dan proses yang saya alami, saya merasa bahwa kehidupan rohani saya berjalan dengan baik tanpa ada gangguan yang berarti, yang penting bagaimana diri kita pandai-pandai membagi waktu antara kehidupan studi dan kehidupan doa.” Bagi frater Klimakus, dengan studi membuat imannya bertumbuh dan bergerak ke arah iman yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan studi tidak berarti identitas sebagai seorang CSE hilang atau membaur begitu saja dalam banyak pola pikir dan gaya hidup.” Paling tidak, itulah yang dirasakan juga oleh frater ini. “Saya tetap merindukan hidup dalam keheningan batin di mana saya dapat berjumpa dengan Tuhan. Kerinduan inilah yang membangkitkan harapan saya.”

Walaupun hidup di komunitas rumah studi sarat dengan tuntutan intelektual, setiap frater berusaha untuk tetap hidup di hadirat Allah. Inilah kekhasan CSE dan memberikan kekuatan sendiri bagi hidup dan panggilannya. “Dengan kesiapsediaan dalam hidup di hadirat Allah memampukan saya untuk membuka hati kepada sesama sehingga segala “badai dan topan” dalam kehidupan bisa teratasi dengan baik tetapi bukan karena usaha saya melainkan karena Kristus yang ada dalam saya dan saya dalam Dia,” inilah yang dikatakan frater Serafim.

Di mana saja kita berada Tuhan pasti menganugerahkan rahmat-Nya yang melimpah kepada kita. Semuanya adalah rahmat Tuhan. “Kehidupan di rumah studi merupakan hidup penuh rahmat dan kegembiraan,” kata frater Brendan. Selalu ada sesuatu yang memperkaya kehidupan yang mereka jalani, terutama dalam relasi dengan para dosen dan dalam dengan frater-frater dari komunitas lain dalam pelbagai kesempatan untuk bertemu bersama. Tidak jarang para frater dari komunitas lain berkunjung ke rumah studi mereka juga. Di sana mereka sharing dan saling memperkaya kehidupan dengan kekayaan dan kekhasan komunitasnya. “Ada suka cita dalam perjumpaan dengan para frater dari komunitas lain,” kata frater Irenius. Demikian juga dialami oleh frater Athanasius. “Kekhasan setiap dosen dalam mengajar memberi pengalaman yang sungguh patut dibanggakan dan memberikan keceriaan sendiri. Relasi dengan para frater dari komunitas lain turut memberikan pengalaman suka kepada saya.”

Demikanlah ungkapan isi hati para frater komunitas studi di Malang. Semoga ungkapan isi hati mereka menambah kebahagiaan banyak orang, sekaligus mengharapkan dukungan untuk setiap perjuangan, kesulitan, sukacita yang mereka alami selama studi. Akhirnya tak lupa mereka mengucapkan “Proficiat dan selamat ulang tahun yang ke-25 untuk CSE.”

(Disusun oleh Elisa Maria, CSE)